Sabtu, 07 Januari 2012

walk on '12

Preambule.
Angka yang seharusnya telah menunjukan suatu kedewasaan atau pencapaian. Tapi yang terjadi ternyata kontradiksi, angka sebelumnya malah masih menunujukan suatu learning process, lebih tepatnya basic learning process, sehingga pada angka ini belum menghasilkan suatu pencapaian apapun. Wah, lama sekali learning processnya yaa. Hmm, tapi sepertinya bukan learning processnya yang lama, justru saya merasakan suatu proses signifikan selama enam bulan terakhir ini. Yang salah adalah saya terlalu lama berdiam diri dalam zona nyaman saya, selama bertahun – tahun! Memang benar ketika kita dalam kondisi baik – baik saja kita justru lupa melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan.
Karena saya ingin sekali pergi exchange, saya mengikuti banyak seleksi. Dimulai dari seleksi untuk delegasi konferensi, pertukaran pelajar, kursus bahasa, sampai menjadi anggota NGO. Dari lima seleksi yang saya ikuti, empat gagal dan yang berhasil yaitu menjadi anggota NGO dan akan mengerjakan project di luar negeri. Terlalu fokus dengan semua seleksi ini menjadikan kuliah saya terbengkalai (manajemen waktu saya masih perlu diasah), dan ujian – ujian saya pun berantakan. Saya terancam mendapatkan nilai D, yang berarti kesempatan saya untuk lanjut S2 di universitas yang diinginkan semakin sulit. Kegagalan demi kegagalan saya dapatkan, dan banyak sekali pengorbanan yang telah saya pertaruhkan. Saya menyakinkan diri jika saya bukan gagal tapi belum berhasil.
Ketika semuanya akan menjadi sangat indah pada saat yang belum diketahui. Saya yakini itu.

Pencapaian.
*karena saya belum berhasil -yang saya yakini sebagai my learning process- maka yang akan saya tulis dalam pencapaian ini adalah sebagai sebuah script.
Saya telah merasakan bagaimana under pressure ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, ketika banyak yang telah dikorbankan tapi hasil tidak sesuai dengan keinginan, ketika sisi egoisme menjerit “ Kenapa saya gagal dan dia berhasil? ”
Tapi ternyata Tuhan telah mempersiapkan yang lebih indah. Saya diberikan Tuhan jalan untuk mendapatkan pengalaman hidup dan pengalaman mental yang lebih banyak, dengan memberikan saya kegagalan di awalnya.
Pada tahun yang banyak resolusi ini, ternyata pencapaian justru melebihi resolusi! Saya mendapatkan kelulusan saya di tahun ini. Selanjutnya saya exchange dua kali dalam setahun. Pertama saya mendapatkan kesempatan summer school di korea, dan kedua saya pergi ke Polandia untuk mengerjakan project pendidikan saya disana. Beruntungnya Polandia itu adalah Eropa, saya tidak menyia – nyiakan kesempatan untuk mengunjungi negara – negara lain di Eropa. Dengan visa schaingen saya mengunjungi Prancis, Italia, Praha, Rumania, Rusia, Ukraina, Jerman, dll. Saya berangkat akhir tahun dan kembali awal tahun, sekitar 2 bulan saya disana. Dan selanjutnya kabar gembira yang tak kalah menggembirakan adalah, saya mendapatkan beasiswa S2 Erasmus Mundus di Jerman!
*suatu script yang sangat indah

Flashback.
Saya sama dengan kebanyakan gadis umumnya pada usia ini. Merasakan bahagia karena persahabatan, yang menunjukan saya cukup baik dan menyenangkan karena orang lain betah bergaul dengan saya. Merasakan saat – saat saling menjaga gengsi untuk meminta maaf duluan dengan teman, karena masalah yang seharusnya bukan menjadi masalah. Itu menunjukan sangat tidak dewasanya saya. Merasakan saat – saat sibuk menjadi pengurus dalam organisasi dan aktif dalam kepanitian, yang menunjukan kalau saya cukup berpengaruh (padahal hanya kepanitian dan kepengurusan dalam ruang lingkup kecil dan sedikit peminat, tapi telah menunjukan kesombongan!). Merasakan saat – saat kejenuhan terdahsyat, hidup terasa sangat flat dan ingin melakukan sauatu perubahan tetapi keterbatasan kemampuan. Dan tentu saja, merasakan saat – saat jatuh cinta! Indah dimabuk asmara, terasa semua akan baik – baik saja dan bahagia. Dan ternyata saya salah, semuanya berakhir. Terasa indah dimabuk asmara telah berubah menjadi kelam diracun cinta. Bersyukur karena semuanya telah berakhir dan bersyukur karena telah dengan berani menerobos zona nyaman untuk memperbesar zona nyaman (bukan keluar dari zona nyaman, tapi memperbesar zona nyaman). Saya telah keluar dari semua yang telah mengikat. Dengan (berusaha) tegar. Kedewasaan pun sedang saya dapatkan.
“What is your passion?”  itu pertanyaan pertama yang membuat saya bingung karena saya tidak tahu passion saya apa.
Dan pertanyaan saya pada saat itu adalah, apa bedanya passion, hobi, dan ambisi? Apakah mereka sama? Apakah passion harus selalu menjadi karir? Atau hanya bisa sebagai alat untuk pencapaian karir?
Well, ketika saya bertanya kepada teman yang mengajukan pertanyaan itu pada saya, dia menjawab “Passion itu sesuatu yang kamu senangi untuk dikerjakan, biasanya karir sesuai dengan passion”. Saya kurang puas dengan jawaban itu karena ketika saya tanya balik, ternyata passion dia tidak sesuai dengan karir yang ingin dia capai, dan hanya sebagai alat. Saya mencari jawaban lain dengan bertanya kepada teman sebaya tetapi tingkat kedewasaan dan wawasan yang sangat jauh berbeda, dan dia menjawab “Saya tidak tahu batasan pasti antara passion, hobi, dan ambisi. Tapi  passion itu seperti, I can’t live without, sesuatu yang senangi dan kamu kerjakan tanpa beban”, jawaban yang sangat rendah hati. Karena tidak mau terlihat susah mengerti (penghalusan dari kata bodoh-karena tidak ada manusia yang bodoh) di hadapan teman – teman saya, saya cukupkan pertanyaan saya dan menyimpulkan bahwa passion saya adalah mengajar, menulis, menjahit, membuat handycraft, dan pergi exchange (mungkin ini lebih terlihat seperti ambisi).
Ketika itu perkuliahan pada hari itu telah selesai, saya keluar kelas dan berdiri di sebelah senior yang duduk di tangga di ruangan utama lantai 1. Saya berbincang – bincang seputar perkuliahan, pengalaman, dan masa depan. Dan pada saat itu, pertanyaan dia yang membuat saya berpikir selama berhari – hari dan menjadi penyesalan saya sampai sekarang adalah, “Kemana saja kamu selama ini?”. Sederhana tapi sarat makna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar